Bahagia di Atas Rata-Rata


Saat problematika mendera, kamu sering bertanya-tanya mengapa kamu harus mengalami ini semua? Lantas kamu pun berandai-andai menjadi dia atau dia, yang hidupnya terlihat sempurna. Kamu terlalu sibuk meratapi nasib, sampai lupa bahwa kamu hebat mengatasi masalah yang terjadi ini. Garis hidupmu tidak mudah, dan kamu luar biasa bisa bertahan hingga titik ini. Hanya kamu yang bisa menjalani hidupmu. Sementara yang menurutmu hebat itu, belum tentu bisa mengatasi saat dihadapkan pada masalah yang sama. Bersyukurlah dirimu masih mendapat ujian, yang tandanya Sang Maha Kuasa mempercayai kamu untuk menyelesaikan itu semua dengan skenario-Nya. Jadi apa yang perlu membuatmu rendah diri? Setiap dia yang hidup punya masalahnya sendiri-sendiri.

Sementara kita sibuk membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain, sibuk mengagumi orang lain dan menyesali diri sendiri, hidup terus berjalan meninggalkanmu jauh ke belakang. Tidak ada yang kamu perbaiki dengan memperbandingkan diri sendiri dengan orang lain. Justru barangkali itu lah yang membuat hidupmu terasa lebih berat, sebab kamu sibuk memakai standar orang lain untuk menilai hidupmu sendiri. Keberhasilan orang lain yang seharusnya bisa menginspirasi justru sedikit demi sedikit mengikis rasa percaya diri. Selanjutnya gagap dalam melangkah, takut gagal, dan tidak sehebat orang-orang di luar sana.

Menyimak keberhasilan teman memang bagai pedang bermata dua. Pertama, mungkin kamu ikut berbahagia dengan keberhasilannya. Kedua, tak bisa disangkal ada sedikit rasa iri dalam hati, sekaligus rendah diri karena kamu ingin juga merasakan keberhasilan yang sama.

Belajarlah mengikhlaskan, menyadari bahwa tak semua yang kamu inginkan bisa kamu miliki. Mensyukuri bahwa apa yang kamu miliki saat ini masih menjadi mimpi bagi banyak orang di luar sana.


(sumber gambar : pinterest)

Post a Comment

1 Comments

close