November Rain



Ku tawan bayangmu dalam palung,
di dasar ruang sunyi,sebut saja rindu
kian dalam tenggelam dihantam arus waktu
.
Pernah ku menulis sajak picisan
tentang dingin di bulan November,
menjebak dalam bait-bait sendu.
Kau memahaminya namun ku tetap menunggu
.
Aku memikirkanmu,membayangkanmu,
memutar-mutar payung
bersenandung di jalanan,
diantara kilau cahaya lampu kota tua.
Dan seperti biasa,aku kembali dengan setumpuk pertanyaan
sejenak terdiam
memandang langit,merasakan kemegahan hujan yang kau cintai
.
Masih ingat jelas saat dua pasang mata 
saling menerka beberapa hal yang tak terungkap.
Jeda membeku,kita terpaku
namun diam-diam mencuri hangat melalui dialog singkat
.
November tetap berlalu
melodi indah masih terdengar sendu.
Memutar kenangan tentang hujan.
Rinduku menggigil menjelma resah,
tak ada cara lain melarikan diri.
Hujan tak kunjung berhenti
.
Engkau satu-satunya insan
yang paling lama hidup dalam nyata maupun angan.
Hal baik semestinya disadari
kenangan selalu membawa pesan
menjadi hal wajar ketika tak mampu mengabaikan
kita berhak merasakan.
Walau tetap saja berlalu
entah sampai kapan November tetap terasa beku
.
Ku tawan bayangmu dalam palung
di dasar relung yang kusebut rindu
semakin dalam menjadi belenggu
tetap saja merindu.
 

Post a Comment

0 Comments

close