Baru



Hasil gambar untuk animasi gambar musyawarah desa
Sumber : golrumah.blogspot.com
“Ada apa ini ?!”  tanya salah satu orang dengan sangat lantang. Langsung saja, suasana mendadak sunyi senyap. Dari sudut kanan di sebuah ruangan itu, pemuda berwajah merah menggeram marah. Tangannya mengepal sampai uratnya terlihat dari luar. Tampaknya dia yang baru saja bertanya dengan suara lantang itu.

Kejadian yang sangat mengagetkan itu membuat pak kades merasa terganggu. Dengan kapasitas yang dimilikinya sebagai seorang kepala desa,  dihampirinya pemuda itu dengan wajah yang lembut dan penuh kasih.

Sarasehan malam itu memang membahas tentang perlu tidaknya peran pemuda dalam keikutsertaan musyawarah desa. Hanya dua pilihan: pemuda cukup menjadi prajurit yang melaksanakan perintah raja saja, atau dia perlu dilibatkan sebagai suatu pihak yang memberi sentuhan baru kepada desanya, sehingga peluang terwujudnya jargon “Bersih, Indah, Nyaman” itu lebih bisa terwujud sepenuhnya.

Pada beberapa tahun belakangan ini, pemuda desa telah menyumbang pemikiran-pemikiran yang luar biasa dari hasil pendidikan formal yang telah ditempuhnya di kota. Berkat mereka, sawah sawah di desa yang sebelumnya hanyalah ladang padi hijau tak berujung dengan endapan lumpur basah yang agak penyerap, kini dapat menjadi lahan sawah yang tidak hanya sebagai tempat menanam sawah, namun menjadi lahan multifungsi yang bernama mina padi. Dimana ladang yang luas tidak hanya sebagai ladang, namun, sambil menunggu panen, petani bisa beternak ikan yang ditempatkan di air sawah. Jelas itu sangat membantu warga. Meningkatkan sumber pendapatan mereka.

Namun, disisi lain, pemuda desa juga sempat membuat situasi desa agak memanas ketika mereka menolak wejangan para sesepuh desa pada saat sesepuh desa mengatakan bahwa desa ini akan terkena dampak gunung Bromo yang sedang meletus, sehingga setidaknya setiap rumah harus membuat satu tumpeng sebagai perantara untuk menolak bala yang akan menimpa mereka. Para pemuda beranggapan, bahwa jika nampak tanda-tanda bahwa bencana akan menimpa desa mereka, maka penduduk desa harus dievakuasi ke tempat yang radius nya cukup aman dari resiko terkena hujan abu atau banjir lahar.

Karena Pak Kades merasa dirinya adalah Pak Kades, maka dia sebagai pamong masyarakat haruslah mengadakan semacam sarasehan atau musyawarah bersama yang kontemplatif agar nanti pada keputusanya tidak terjadi  apriori di lingkungan masyarakat desa.

Maka, malam minggu itu, rumah Pak Kades menjadi ajang melontarkan pendapat oleh semua lapisan masyarakat desa. Mulai dari yang paling dihormati, ditakuti, disegani, dijadikan pusat pembicaraan, provokator, tukang buah,  sampai Pak Mantri di ujung desa

“Mengapa harus diikutkan? Bukan kah dia juga menjadi robot di sekolah sekolah formal? Mengapa kita tidak ‘didik’ dia saja di sini untuk melaksanakan keputusan – keputusan kita? Mereka adalah anak dari gedung – gedung tinggi!” seorang bapak bersuara lantang berdiri sambil mengacungkan telunjuknya ke atas. Dengan semangat dia berpendapat. Singkong yang penuh di mulutnya tidak dihiraukan.

Mendadak riuh rendah suara. Ada yang berpendapat lain, ada yang menanggapi  pembicaraan bapak itu.

“Kau hanya cemburu!” celetuk seorang di sudut sana.

"Ya! Cemburu sosial!" tambah yang lain.

Tidak. Bapak itu benar juga. Dengan mengikuti gaya pendidikan dan interaksi sosial di sekolah sekolah kota, maka pasti pola pikirnya tersentuh atau terkontaminasi oleh kota yang identik dengan cepat, individual, egoistik dan saling bunuh. Sehingga, apabila pola semacam itu diterapkan di desa yang penuh kalem, dan saling tolong saling bantu, rasanya seperti  ketika Anda memasukan sesendok sambel di gelas es dawet. Benar, tidak pas.

“Peran pemuda di sini jangan kau samakan dengan kompeni Belanda yang menembaki penduduk pada zaman kakek nenek kita, pak. Bagi saya mereka akan tetap megikuti arahan kita sebagai pamong desa ini dengan cara cara baru mereka yang lebih segar, seperti,  17 Agustus-an di desa kita mungkin tidak hanya diisi dengan dangdutan, panjat pinang, dan semacam pengajian oleh kiai kita yang sudah mulai pikun saja itu, sehingga dia hanya mengulang ulang perkataanya saja.” Bela Pak Mantri yang dulu juga sedikit menempuh pendidikan formal

“Lagipula dengan adanya pemuda kita juga terbantu dalam penyelesaian masalah di desa, sampai-sampai pekan lalu Pak Bupati datang ke desa kita untuk menyaksikan mina sawah yang telah berhasil kita kembangkan setahun lalu.”

“Bukan, bukan masalah itu! Pemuda kita telah kemasukan roh modernisasi perkotaan yang katanya sangat maju itu! Bahkan, dengan gaya sok inteleknya, pemuda kita berani melanggar dawuh sesepuh kita! Kualat mereka semua!”  perkataan Dirman menyanggah pernyataan Pak Mantri

“Ada apa ini ?”  tanya salah satu orang dengan sangat lantang. Langsung saja, suasana mendadak sunyi senyap. Dari sudut kanan di sebuah ruangan itu, pemuda berwajah merah menggeram marah. Tangannya mengepal sampai uratnya terlihat dari luar. Tampaknya dia yang baru saja bertanya dengan suara lantang itu.

“Kalau Anda tidak berharap kehadiran kami di desa ini, bilanglah! Jangan sembunyi begini! Kalau Anda merasa bahwa kami telah membuat anda repot dan emosi, maka bilanglah! Jangan diam-diam Anda mau bunuh kami! Kalau kami tersesat dan salah, bimbinglah kami agar benar dan berkembang!”

Semua gelagapan, tak bisa berkata apa. Keringat mengucur di dahi mereka. Suasana mendadak dingin. Para peserta pulang, bilang kepada istrinya, minta dipijiti.


Post a Comment

1 Comments

close